Sejarah GSKB

yayasan-gerakan-sadar-kebaikan-buku
GSKB ketika kerja sama dengan kader lingkungan Tawangsari mengadakan program Kampung Iklim. Program pada 10/1/2016 (Dok. GSKB)

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” kutipan Bung Karno untuk menunjukkan tentang kekuatan anak muda.

GSKB (Gerakan Sadar Kebaikan Buku) pun hadir sebagai sebuah komunitas pada Senin  (7/1/2013), dari inisiasi tiga pemuda alumni mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, yaitu Kukuh Martha Afni, Ahmad Fajarisma, dan Rika Farhani.

Berangkat dari kesadaran sebagai agen perubahan, tiga pemuda ini kemudian membuat GSKB, dengan sasaran anak-anak yatim piatu se-Malang Raya. Dahulu bernaung di bawah Pusat Souvernir UMM yang berlokasi di Jl. Raya Tlogomas No. 50 Malang, sebelah Bookstore UMM.

Kegiatannya rutin setiap akhir bulan mengunjungi panti asuhan se-Malang Raya secara bergantian. Kami membawa berbagai macam sumbangan dari donatur, seperti buku, pakaian, uang, serta makanan. Kemudian juga mensosialisasikan pentingnya buku bagi kehidupan.

Di sela-sela mengunjungi anak-anak panti, kami mengadakan pengajian, untuk relawan GSKB sebagai bentuk penguatan kembali, kenapa harus berbagi kebaikan dan peduli pada yang lain. GSKB dahulu memiliki bidang-bidang: ketua, penasehat satu dan dua, bendahara, sekretaris, design, humas, dan publikasi.

“GSKB hadir di saat pesatnya perkembangan IPTEK, yang memunculkan kegelisahan, gundah, dan resah pada hati mahasiswa serta orang pada umumnya. Maka berbagi dan peduli pada adik-adik panti asuhan, adalah salah satu obat mujarab, ” ucap Ahmad Fajarisma.

Berbagi dan peduli pada yang lain, memang memberikan ketenangan, kedamaian, dan rasa syukur atas apa yang dipunya. Sehingga GSKB sejak berdiri-sekarang, mendapatkan respon positif dari mahasiswa hingga masyarakat.

Terbukti memasuki tahun ketiga, GSKB tetap eksis, mendapatkan banyak dukungan, konsisten, dan terus berkembang. Maka Kamis (15/10/2015), Komunitas GSKB bertransformasi menjadi yayasan yang berbadan hukum dengan nomor akta notorasi 501510163510247.

Transformasi menjadi yayasan merubah beberapa lini, salah satunya terkait penambahan bidang-bidang. Bidangnya sebagai berikut: pembina, penasehat satu dan dua, ketua umum, sekretaris, bendahara umum, marketing dan communication, media online dan offline, serta unit bisnis GSKB.  

Kenapa harus berbentuk yayasan?

Kalau komunitas kredibelitasnya masih dipertanyakan dan daya jangkaunya tidak luas, sebab tidak memiliki payung hukum. Beda dengan yayasan yang berbadan hukum.

Suwanto Pembina GSKB menuturkan, “GSKB menjadi yayasan memiliki berbagai manfaat, seperti mudah mendapatkan donatur dan memiliki daya jangkau yang lebih luas. Ibarat mengarungi lautan, GSKB memiliki kapal yang kuat.”

Salah satu mimpi terbesar GSKB adalah memiliki lahan seluas 5 Ha yang di dalamnya terdapat pendidikan, lahan usaha, dan beragam macam fasilitas. Di mana semua itu ditujukan untuk adik-adik panti asuhan.

Makanya visi kami setelah menjadi yayasan yaitu, Membentuk Insan Berkarakter Mandiri dan Mulia.

Di sini kami tidak lagi menjadikan anak-anak yatim piatu sebagai obyek, melainkan subyek.

Mereka tidak lagi mendapatkan santunan dan mendengarkan sosialiasi tentang pentingnya buku semata.

Namun kami mengajak anak-anak yatim piatu terlibat langsung dalam berbagai program yang kami adakan.

Seperti outbound bersama, pelatihan kepenulisan dengan setting goal menghasilkan buku yang ditulis langsung oleh mereka, kunjungan ke media massa, entrepreneur trip, kelas motivasi, mengadakan lomba tentang kreatifitas dan keterampilan, hingga membuat unit bisnis kue yang dikelola oleh anak-anak panti sendiri.

Terakhir, saat ini GSKB sudah menjadi yayasan, program-program kreatif dan inovatif telah terlaksana-akan dilaksanakan. Banyak muda-mudi yang terlibat langsung dengan bergabung bersama kami.

Maka, kami mengajak kalian yang suka berkontribusi bagi bangsa untuk bergabung. Sekarang waktunya untuk kita semua berkolaborasi, dengan satu tujuan, Indonesia Raya.

Hidup adalah udunan, sehebat apa pun kita dalam satu hal. Kita akan selalu membutuhkan orang lain untuk mewujudkan sebuah ide dan gagasan sebaik apa pun. Mengapa? Sebab sekarang bukanlah zamannya mengubah dunia sendirian, tapi zamannya mengubah dunia bareng-bareng (Ridwan Kamil dalam buku Mengubah Dunia Bareng-Bareng)

Visi Misi Yayasan GSKB

Visi

Membentuk insan berkarkter mandiri dan mulia

Misi

  1. Mewujudkan kemandirian ekonomi, pangan, pendidikan, dan teknologi yang berbasis Al-Quran.
  2. Membentuk insan yg memiliki karakter tangguh dalam bidang agama dan ilmu pengetahuan umum.
  3. Menjadi lembaga yang menginspirasi masyarakat untuk peduli dan berpihak pada yatim dan piatu melalui nilai–nilai agama serta ilmu pengetahuan umum.
  4. Menjadi lembaga pengelola anak yatim dan piatu yang profesional, transparan, dan terpercaya.