yayasan-gskb-malang-panti-asuhan
Penulis, Aisya Ahmad berasal dari Panti Asuhan Aisyiyah Sengkaling

“Orang bodoh itu bukan orang yang tak bisa memahami suatu pekerjaan. Tapi orang bodoh adalah orang yang tiada pernah bisa menemukan satu titik kebahagiaan yang ada di dalam hatinya”

Malam semakin larut, taburan bintang di angkasa memancarkan sinarnya, menerangi bumi yang kini diselimuti oleh kegelapan. Suara binatang malam mangalun lembut seiring detik demi detik yang berlalu dengan begitu cepat. Aku melirik jam dinding yang terpampang rapi di salah satu sisi tembok kamarku.

Waktu menunjukkan pukul 23:20, itu mengartikan bahwa tinggal beberapa jam lagi aku harus pergi meninggalkan asrama yang penuh dengan kenangan selama lima tahun ini. Aku meraih fotoku bersama dengan teman-teman satu asrama yang tertata rapi di atas meja belajar u. Aku menatap mereka satu per satu dalam foto itu. Semua tampak cerita. Tiada ekspresi yang menampilkan luka dan kesedihan yang tersembunyi jauh di dasar hati.

Tiada kusangka, air mataku mengalir deras di atas permukaan pipiku. Dadaku terasa sesak, seakan penuh dengan amarah, tidak terima atas perpisahan yang akan terjadi padaku dengan teman-teman di asrama. Namun apa boleh buat takdir telah mengatur skenario anganku, bahkan mengubah drama hidupku yang penuh melankolis. Nasib baik tak selalu berpihak padaku, seperti saat ini, waktu mengancamku dengan dua pilihan yang teramat sulit bagiku untuk memilih salah satu.

Pilihan pertama adalah aku harus pulang ke rumah untuk merawat dan menemani ibu yang sudah semakin tua dan mulai pikun apalagi beliau hanya tinggal seorang diri dalam gubuk yang sepi dan rapuh, lalu aku harus meninggalkan segala impian dan semua kenangan yang kuukir bersama teman-teman di asrama.

Pilihan yang kedua, yakni aku tetap melanjutkan impianku dan berbahagia bersama teman-tema di asrama panti yang mungkin senasib denganku, lalu membiarkan ibu melalui masa tuanya dengan segala sepi yang menggerogoti hatinya dan pilu yang datang silih berganti mengusik ketenangannya.

Bagi siapapun yang berpikir menggunakan hati dan otak, pasti akan memilih pilihan yang pertama, entah apapun risikonya. Begitupula aku, aku siap menerima segala konsekuensi yang muncul atas pilihan dan keputusan hatiku.

Rindu sudah pasti akan bersarang di benakku di kala aku mengingat setiap momen yang kulalui bersama teman-teman di asrama panti ini, entah sedih, bahagia, ataupun segala senda gurau yang berhasil membuatku tertawa sepuas-puasnya. Semua terasa seperti baru terjadi kemarin dan hari ini sudah kusimpan dalam kalbu sebagai kenangan yang indah.

Seminggu terakhir ini, pikiran kacau, aku hanya berkonsentrasi pada dua pilihan itu, hingga kutemukan jawaban yang tepat, yang telah kuputuskan. “Huft… Tuhan, aku yakin inilah yang terbaik untukku,” ucapku lirih seraya merebahkan tubuh di atas kasur, melepaskan segala kepenatan yang mengganggu dan menari-nari di otakku akhir-akhir ini.

Kupejamkan mataku lalu perlahan aku mulai tak mendengar suara-suara khas di malam hari. Aku kian tenggelam dalam alam bawah sadar dengan begitu khidmat. Sedangkan takdir masih sibuk berkompromi dengan waktu, mengatur setiap fenomena pada jejak di mana akan kutapakkan langkah demi langkah di esok yang akan datang.

***

Azan Subuh menggema di telingaku, membuatku terbangun dari tidur nyenyakku. Tak peduli udara dingin menusuk kulitku, meskipun mata masih mengantuk, aku berhasil melawan segala godaan setan yang mencoba merayuku agar tidak menjalankan kewajibanku.

Seusai mandi, aku langsung menuju masjid asrama untuk shalat Subuh berjamaah dengan teman-teman panghuni asrama panti. Rupanya mereka sudah menungguku agak lama, tidak seperti biasanya aku yang selalu datang lebih awal dan menunggu mereka sambil membaca Alquran sekitar sepuluh sampai dua puluh menitan.

“Mba Leli, jadi imam, ya. Udah lama nih enggak dengar suaranya Mbak Leli,” ucap Nana, adik tingkat di asrama yang berumur dua tahun lebih muda dariku. Ya, memang seminggu terakhir ini aku tidak pernah mengimami shalat fardu berjamaah.

“Nggak, ah. Mbak Lia aja deh,” tolakku lembut sembari menunjuk ke arah Mbak Lia, senior tertua di asrama. “Kok gitu sih, Lel? Kita dari tadi nungguin kamu, biar kamu yang ngimami,” jawab Mbak Lia, menjelaskan alasan beliau tidak mengimami shalat Subuh pagi ini.

“Pokoknya kamu enggak boleh nolak! Inikan hari terakhir kamu di sini. Please, imami kita untuk terakhir kalinya. Kita bakal kangen banget sama suara merdumu itu,” timpal Bella sedikit memaksa dengan tampang kocak khasnya. Deg!!! Suaraku seperti tak mau keluar, lidahku seakan protes dengan kata-kata “terakhir kalinya”.

Setelah shalat, aku diberi kesempatan oleh Mbak Lia untuk mengucapkan kata-kata perpisahan pada tema-temanku. Kupeluk mereka satu per satu lalu kuucapkan maafku pada mereka, mengingat segala tingkah lakuku yang mungkin membuat mereka terluka dan sangat sulit bagi mereka untuk menyembuhkan luka itu.

Lagi-lagi air mataku tertumpahkan ketika aku berkaca pada wajah mereka yang selama ini menorehkan tinta pada lembar kenangan yang tersimpan dalam kalbuku. Aku memeluk Bella erat, ia menangis sesenggukan, tak percaya akan kepergianku. Bella memang sudah kuanggap sebagai saudara kandungku, karena ia setipe denganku dan berpikiran sejalan denganku.

Ia menyodorkan sepucuk surat kepadaku dan mengatakan untuk membaca surat itu kalau aku sudah di dalam perjalanan pulang. Mbak Lia menepuk pundakku, memberiku semangat menyongsong hari baruku nanti tanpa nasihat-nasihat yang keluar dari hatinya lagi.

Aku menangis bukan karena aku bersedih pisah dengan teman-temanku, namun aku menangis karena aku bahagia. Takdir pernah mempertemukan aku dengan mereka dalam satu atap asrama ini dan hidup bersama mereka selama lima tahun. Dalam perjalanan pulang, pikiranku melayang kembali ke masa lalu, masa-masa di mana aku tertawa dan menangis bersama mereka.

Masih segar dalam ingatanku, setiap pulang sekolah , kami selalu merebut pojokan angkot sebagai tempat yang nyaman untuk melepaskan rasa kantuk selama perjalanan pulang sekolah. Sampai-sampai sopir angkot hafal dengan tingkah konyol kami.

Tak jarang juga kami merasa sedih ketika kami dimarahi oleh ketua panti, tapi kami tak kapok-kapoknya untuk mengulangi kesalahan yang sama. Dasar gokil! Kami tiada peduli dengan anggapan teman-teman yang jelek tentang kehidupan di asrama panti. Yang ada kami merasa memiliki banyak saudara yang memiliki karakter yang berbeda-beda.

Aku bahagia, hanya itu yang bisa kukatakan. Aku tak bisa menggambaran bahagia yang terukir dan menjadi prasasti sejarah dalam jiwaku. Sehingga aku merasa hidupku penuh warna. Aku tahu bahagia itu tak harus dengan hidup yang mewah, bergelimangan harta atau kaya raya.

Bahkan banyak orang yang hidup penuh dengan segala kemewahan tapi tak pernah mengerti tentang kebahagiaan. Tidak sedikit para jutawan yang bunuh diri akibat hidup tidak bahagia, padahal bahagia itu sederhana, karena kitalah yang menciptakannya dari kekuatan hati.

Bagiku, orang bodoh itu bukan orang yang tak bisa memahami suatu pekerjaan, tapi orang bodoh adalah orang yang tiada pernah bisa menemukan satu titik kebahagiaan yang ada di dalam hatinya selama ia berkelana di atas bumi yang tak pernah abadi ini.

Dengan hati-hati, pelan-pelan kubuka sepucuk surat yang diberikan Bella tadi. Kumulai menyusuri kata demi kata di atas kertas putihku.

Dear Leli,

Aku tidak pernah menyangka akan seperti ini cerita perjalanan hidup kita.

Lucu. Sedih. Bahagia. Sunyi. Bosan, dan pada akhirnya mengalir berubah menjadi selembar kenangan yang kian membekas di setiap memori juga kalbu. Terlalu sayang jikalau segala kenangan itu terkubur oleh jarak dan waktu yang memisahkan kita tanpa ada sedikit makna pun yang tersirat pada masa depan.

Memang sangat jauh bagiku untuk menjenguk kembali segala yang telah berlalu. Duka, tawa, canda, nestapa, dan senyuman yang masih membekas namun jauh entah sampai di batas waktu.

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Namun perpisahan bukan akhir dari segalanya. Dengan adanya perpisahan, malah kita tahu arti kerinduan, penantian, serta kenangan.

Siapa sih yang mau kehilangan masa indahnya?

Siapa sih yang mau kehilangan masa bahagianya? Apalagi seperti masa-masa kita.

Ingat! Selalu awali esok pagi dengan senyuman. Kita pasti terus bahagia dengan cara kita masing-masing, terputus dari keegoisan yang menyesatkan. Tidak ada kebahagiaan yang diharapkan dari orang lain karena bahagia itu datang dari lubuk hati kita yang paling dalam.

Setiap masalah yang kita hadapi pasti ada jalan keluarnya. Yakinlah kita pasti terus bahagia meskipun toh masalah tak henti-hentinya mengejar kita.

26 November 2016

Salam,

Bella

Penulis Aisya Ahmad, Panti Asuhan Aisyiyah Sengkaling

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here