yayasan-gskb-malang-panti-asuhan
Penulis Eka Widiya Sari, dari Panti Asuhan Aisyiyah (Riverside), Malang

“Saat ibu berkata seperti itu entah kenapa hatiku terasa rapuh, dadaku sesak dan air mataku terasa mengalir dengan sangat deras.”

Di pagi yang buta, sayup-sayup matahari akan menampakkan sinarnya. Keluar dari tempat persembunyiannya, yang digantikan oleh bulan yang sangat setia padanya. Di pagi yang belum terang itu terdengar suara takbir yang ama sangat merdu. “Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbara, Lailahaillah Huallahuakbar, Allahuakbar Walillahilham.”

Hati yang hampa, yang penuh dengan adanya dusta. Bagaimana langit yang tadinya ditutupi kabut hitam, kini indah bak hamparan lautan awan? Hati yang kalut, yang bimbang dan tak menentu, kini terasa sangat rapuh, terhanyut oleh suasana takbir yang mengingatkan kita akan kebesaran Tuhan.

Saat waktu telah tiba, jamaah pun menata shafnya. Dengan pakaian yang bersih, paras yang bersinar, semua terlihat indah di dalam dirinya. Semua terasa sangat lega, bahagia, dan sangat gembira. Karena di pagi yang cerah ini semua orang menyambut hari yang sangat dirindukannya yaitu Hari Kemenangan.

Hari raya Idul Fitri adalah hari yang amat sangat dirindukan oleh semua umat Islam. Hari yang suci, hari yang bersih, hari yang penuh dengan Rahmat Allah SWT. Di hari kemenangan ini semua orang terasa terlahir kembali, diampuni dosa-dosa, kesalahan-kesalahan yang diperbuat di masa yang lalu. Semua orang berbondong-bondong untuk menghapus dosa kepada saudara yang satu imannya.

Di saat itu, setelah shlat hari raya, aku dan keluargaku pulang ke rumah. Saat di rumah, ayah dan ibuku saling meminta maaf, begitu juga dengan aku dan adikku. “Bu, Yah, aku minta maaf atas kesalahanku, aku sadar selama ini aku bandel, selalu tidak mendengarkan nasihat Ibu dan Ayah, selalu malas dan tidak mau jika disuruh belajar dan terutama aku manja dalam segala hal, padahal di sini posisiku sebagai seorang kakak, yang seharusnya memberi contoh yang baik kepada adiknya agar senantiasa adik menjadi orang yang baik juga,” ucapku.

“Nak, Ibu dan Ayah sudah memaafkan kesalahanmu, Ibu dan Ayah ikhlas atas semua itu, kami hanya ingin kamu menjadi orang yang baik, yang sholeh dan sholehah, agar kelak kita dapat membangun keluarga yang bahagia di surga Allah SWT,” kata-kata itu membuatku terharu.

Saat ibu berkata seperti itu entah kenapa hatiku terasa rapuh, dadaku sesak dan air mataku terasa mengalir dengan sangat deras. Ibu memelukku dengan erat, mencium kening dan pipiku dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.

Aku berjanji aku akan lebih bisa mengerti keadaan kedua orang tuaku dan lebih bisa memahami apa yang seharusnya dapat aku perbuat di kala orang tuaku tidak bisa selalu mendampingiku dalam setiap hari-hariku.

Sudah sepatutnya aku bersyukur atas semua ini, mempunyai keluarga yang amat sayang kepadaku, mencintaiku dengan sepenuh hati. Hidupku akan terasa hampa tanpa ayah dan ibuku. Mereka rela berkorban demi anak-anaknya, aku salut atas perjuangan ibu dan ayah dalam menghadapi tingkah lakuku dalam sehari-hari.

Ibu, Ayah aku sayang kalian.

Aku rindu kalian.

Aku ingin kita selalu bersama.

Melewati hati yang sepi

Hari yang gundah

Bahkan hari yang penuh dengan canda tawa

Aku rindu saat-saat kita bersama

Karena aku mencintai kalian berkat ridho dari Allah SWT

Ini adalah kado terindah dari Tuhan

Yang menitipiku sebuah surga kehidupan

Surga yang indahnya tiada tara

Bagaikan taman bunga, yang mekar setiap harinya

Aku akan menjaga surgaku ini dengan penuh kasih sayang

Dengan sepenuh hati bahkan dengan perasaan yang amat bahagia

Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberiku kado yang amat sangat indah

Ibu, Ayah aku mencintaimu karena Allah

Penulis Eka Widiya Sari, Panti Asuhan Aisyiyah Riverside, Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here