yayasan-gskb-malang-panti-asuhan
Penulis, Abid Abiyyu Rahman berasal dari Panti Asuhan Aisyiyah Batu

“Bagaimana bisa aku seberuntung ini atau ini memang nasibku yang sudah ditetapkan Allah padaku?

Pada saat itu sore hari. Tiba-tiba saja aku melamun, entah mengapa aku melamun seperti ini. Tapi dalam lamunanku aku mengingat alangkah beruntungnya aku pada hari itu. Entah kapan yang mungkin bagiku keberuntungan yang membahagiakan dan sekaligus keberuntungan yang beruntung. Beginilah ceritanya.

Tiga minggu yang lalu. Ketika itu aku dan teman-temanku sedang lari-lari kecil atau jogging. Saat itu temanku yang kuajak adalah teman yang paling dekat, yaitu Faza dan Novril. Kami bertiga memiliki satu sifat yang sama, selalu “Anti Mainstream”. Oleh karena itu, mereka meminta agar melalui rute yang berbeda dan biasanya. Alasannya pasti ada dua. Pertama, agar tahu jalan lain. Kedua, pemandangannya tidak itu saja yang dilihat.

Aku pun memberi tahu jalannya. “Aku pernah diberitahu deh Pak Par ada jalan yang sepi di dekat lapangan. Jalannya setapak, jalannya susah dilalui, kata penduduk desa setempat jalan itu juga angker,” kataku. Faza pun menjawab, “Angker-anger apanya? Pagi-pagi masa ada setan keluar?” “Ada, itu,” sambil aku menunjuk Novril. “Hahaha,” kami bertiga tertawa dengan keras. Akhirnya, mereka semua setuju untuk melewati jalan itu.

Sepuluh menit kami berjalan menuju lapangan. Novril yang berada di depan mencari jalan itu menoleh kanan dan kiri, dia tidak menemukannya. Aku pun menunjuk di belakang semak dan kami menghampiri tempat itu. Kami pun kaget campur degan penasaran. Kami segera masuk ke jalan yang hanya cukup dilalui satu orang itu, 10 meter, 20 meter, 30 meter, sejauh ini tidak ada apa-apa, hanya ada gubuk reot kecil di tengah sawah.

Kami pun mendekatinya, kami melihat sekitar aman-aman saja, tetapi ketika kami melalui pohon durian dekat gubuk itu tiba-tiba, “Guk! Guk!,” suara anjing yang menggonggong. Kami pun tidak menghiraukan suara itu. Akan tetapi sat anjing itu keluar dari semak-semak kami pun kaget dan langsung lari kembali ke lapangan. Novril yang badannya sedikit gemuk berlari paling terakhir yang hanya jarak 3,7 m dari anjing tadi.

Faza yang lari di depanku kakinya menyeret plastik, tetapi ia tetap berlari saking takutnya dengan anjing. Aku pun menoleh ke belakang dan melempari anjing itu dengan batu dan pasir, yang menyebabkan anjing itu lari takut dengan lemparan batu tadi.

Di tengah lapangan mereka berdua tetap berlari, aku sudah jalan dengan santai. Mereka mengira anjing itu masih mengejar. Padahal anjing itu sudah tidak berani mengejar lagi. Aku hanya tertawa saja melihat mereka lari.

Tak lama kemudian aku merasa seperti menendang sesuatu, aju pun kaget dan segera mengambilnya. Ternyata benda itu adalah dompet yang lumayan tebal atas nama Suparman bin Batman. Aku pun segera menutup dan memasukkannya ke dalam sakuku.

Tak terasa hari sudah panas, akhirnya kami bertiga pulang ke rumah masing-masing. Di perempatan kami pun berpisah. Novril ke arah pasar dan aku dengan Faza ke arah sungai besar. Di perjalanan pulang aku dan Faza membicarakan tentang dompet itu. Awalnya aku tak tahu siapa pemilik dompet itu, setelah kulihat fotonya aku seperti mengenali.

Tiba-tiba Faza tertawa sendiri, aku pun bertanya, “Kenapa Za?” itu lihat namanya, masa orang ada yang namanya Suparman bin Batman, “Yang lebih aneh lihat ‘bin Batman’ jadi artinya, bapaknya namanya Batman,” Faza menjelaskan.

“Jadi anak sama bapak sama-sama superhero-nya,” timpalku. “Hahaha,” kami pun tertawa bersama-sama. Tetapi akhirnya Faza dan aku sepakat untuk mengembalikannya karena aku ingat yang dimaksud itu adalah Pak Par, tetangga bibiku di desa sebelah.

Sore harinya aku menjemput Faza di rumahnya. Ternyata ia sudah siap dari tadi di depan rumahnya. “Za!” panggilku. “Tunggu bentar,” jawabnya. Setelah itu ia masuk rumah sebentar, lalu ia keluar lagi dan segera menghampiriku. “Kenapa kamu mengendarai sepeda motor? Masih bau kencur aja sudah bawa motor,” katanya. “Faza… Faza… calon ustaz kok nggak mikir. Jarak ke rumah orangnya itu 3 km kalau naik sepeda/jalan, Isya’ baru sampai rumah,” jelasku.

Aku langsung tancap gas, dan perlahan meninggalkan desaku yang terpisahkan dari desa tetangga oleh sungai besar yang namanya sungai Konto. Sungai ini sumber mata airnya dari Gunung Kelud dan bermuara di sungai Brantas.

Menurut penduduk sekitar, di DAM kedua atau bendungan kedua ada penunggunya. Penunggu itu berupa atau beruwujud naga yang merupakan prajurit milik Maeso Suro yang diutus untuk menunggu sungai berbendungan 3, di daerah kekuasaan Kerajaan Kediri.

Di perjalanan aku hanya melaju 40-60 km/jam karena aku dan Faza merasa masih menyayangi nyawa kami. Tetapi tiba-tiba ada truk pembawa paket yang memotong jalan sembarangan tetapi si supir tidak sadar kalau box-nya terbuka. Saking tergesa-gesanya ada 3 kardus paket yang jatuh, 1 kardus besar dan 2 kardus kecil. Aku dan Faza pun berhenti. Dan aku memerintah Faza untuk mengambil kardus-kardus itu. Faza pun segera mengambil kardus-kardus itu dan segera menaiki motorku.

Aku pun tancap gas dengan kecepatan tinggi agar tak ketinggalan truck tadi. Entah berapa kecepatan yang ku tempuh. Tetapi sepeda motorku ini merengek tak kuat karena sudah tua mesinnya. Tepatnya sepeda motor Honda Supra Fit 2005 yang CC-nya hanya 120. Aku pun mengikuti rengekan itu akhirnya aku harus mengalah dan kukurangi kecepatannya.

Tetapi truk itu sudah dekat dan Faza pun menghentikan truk dengan isyarat tangan. Setelah itu aku dan Faza menjelaskan kejadian itu pada sopir truk paket itu sembari memberikan kardus-kardus yang jatuh tadi. Dan sopir itu pun mengangguk-angguk tanda mengerti dan memberikan uang 300.000 rupiah kepada kami berdua sebagai tanda terima kasih. Sopir itu pun segera pergi untuk mengantar paket milik negara tersebut.

Setelah mengalami kejadian tadi, tak terasa rumah Pak Par sudah dekat. Tiga menit kemudian kami sampai di rumah Pak Par. Kebetulan ia berada di depan rumah, ia sedang memandikan burung Murray Batu miliknya yang memang harganya selangit. “Pak!” sapaku sembari menghampiri Pak Par. “Iya ada apa?” tanyanya.

Lalu kami menceritakan kejadian tadi pagi. Lalu kami sebelum itu dipersilakan masuk ke rumahnya yang memang seperti rumah-rumah milk superhero, Ada pedang yang dipajang di meja dan di tembok yang di tata menyilang dan di sisi lain tembok terdapat peluru panjang milik TNI yang banyak cocok oleh machine gun.

Maklum ia adalah veteran perang reformasi dan anaknya yang pertama adalah TNI AD dan yang kedua adalah TNI AU. Kami berani melihat-lihat rumah Pak Par karena orangnya masih di belakang jika tidak pasti kami malu sekali. Tak berapa lama orangnya kembali kami pun mengembalikan dompetnya. Sebagai tanda terima kasih kami di beri uang olehnya senilai 400.000 rupiah dan katanya untuk dibagi dua. Dan kami pun berpamitan.

Setelah dari rumah Pak Par, kami merasa senang karena masing-masing kami mengantongi uang yang lumayan banyak dan dompet kami pun menjadi semakin tebal. Aku sudah berangan-angan ingin membeli RAM baru untuk komputerku dan Faza katanya ingin membeli handphone yang akan ditambah dengan uang tabungannya selama ini. Katanya handphone yang ingin di belinya adalah handphone Samsung Galaxy tapi tak tahu yang tipe apa?

Di jalan aku bertemu beberapa teman sekolahku yang kebetulan rumahnya dekat dengan rumah Pak Par. Di tengah-tengah perjalanan kami berdua menjumpai seorang pemuda yang kelelahan sambil menuntun sepeda motornya. Kami pun berhenti dan bertanya “Kenapa, Mas? Kok motornya didorong?” “Iya dek, ini motornya bensinnya habis,” jawabnya.

“Mas gimana kalau saya belikan bensin di warung sana? Warung Pak Kodir,” tawarku. Ia pun mengangguk-angguk tanda setuju. Aku pun berangkat sendiri tak mengajak Faza karena ia ingin berbincang-bincang sama si Mas tadi.

Tak berapa lama aku kembali dengan membawa dua buah botol bensin yang setiap botol berisi 1 liter yang harganya tak seberapa. Setelah selesai aku dan Faza pun pulang. Sebelum pulang kami diberi kenang-kenangan yakni beberapa buku komik Naruto dan Shincan. Saat pulang kami mengucapkan terima kasih pada Mas tadi yang telah memberikan komik kesukaanku tadi.

Aku dan Faza sudah melalui sungai Konto tanda kami sudah memasuki Kandangan. Kuantar Faza ke rumahnya yang lokasinya lumayan dekat dengan sungai Konto. Sesampai di rumahnya, Faza menawariku untuk mampir. “Tidak terima kasih,” jawabku. Ditepuknya pundakku dan ia senyum sambil mengatakan ,“Sampai jumpa,.” “Ya,” jawabku.

Aku pun langsung pulang meninggalkan rumah Faza dengan wajah yang berseri walau belum mandi, aku tidak merasa risih karena dompetku menjadi tebal secara mendadak.

Sesampainya di rumah aku kaget karena ada mobil mewah berwarna chrome keputih-puhan yang terparkir di halaman rumah. Aku sendiri termangu melihat mobil sport itu sembari memarkir sepeda motorku. Yang kutahu adalah mobil seperti itu bermerek Toyota, kira-kira Typenya mugkin Celica.

Aku pun memasuki rumah ternyata ada pamanku yang rumahnya di Bogor. Ia sedang duduk-duduk di ruang tamu sambil mengobrol dengan ayahku. Aku pun segera sungkem dan salim pada pamanku dan mandi. Setelah mandi aku segera ke ruang tamu dan menghampiri paman, di sana kami berbincang-bincang cukup lama hingga hampir Isya’.

Aku pun bertanya pada paman, “Paman sendirian? “Ia pun menjawab dengan kata-kata ajaib, “Tujuan paman mu ini, Le untuk mengajak kamu liburan di Bogor, mau nggak?” Aku tak bisa berkata apa-apa selain senyum yang tertuju kepada paman.

Aku pun melamun bagaimana bisa aku seberuntung ini atau ini memang nasibku yang sudah ditetapkan Allah padaku? Yang terbayang di benakku adalah enaknya berlibur di daerah Bogor yang udaranya masih segar dan sejuk.

Penulis Abid Abiyyu Rahman, Panti Asuhan Aisyiyah Batu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here