desa sade pulau lombok yayasan gskb
Dela Romadhona dan Eka Widiya Sari foto berfoto bersama buku antologi Aku Bahagia di salah satu kerajinan warga Desa Sade

Sebentar memang perjalanan yang dilakukan, tapi kenangan setelahnya akan bertahan lama, dan tak mudah untuk dihapus.

Itulah yang kami rasakan semua, perjalanan ke Pulau Lombok memang hanya empat hari dari Senin-Kamis (18-21/12). Namun, pelajaran dan pengalaman yang kami dapatkan akan abadi.

Di sana kami jalan-jalan ke wisata alam, spiritual, sejarah, dan tentu saja berburu kuliner khas dipandu oleh Robby Ikrom Maulana, atau biasa disapa Iko, Ketua Yayasan GSKB, pemuda asli Lombok.

Jelajah empat pulau yang memesona

Gili itu artinya pulau kecil. Di Lombok, NTB, banyak sekali gili. Salah satu yang terkenal dan digandrungi banyak wisatawan adalah Gili Terawangan.

Di pulau ini, hanya terdapat transportasi lokal yang bebas dari asap kendaraan. Sehingga udara masih terjaga.

Kemarin kami tidak ke sini, namun pada Selasa (19/12) ke empat gili yang tidak kalah memesona daripada Gili Terawangan.

Keempat gili ini yaitu, Gili Mangrove, Gili Bidara, Gili Kapal, dan Gili Kondo. Terletak di Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur.

A post shared by Yayasan GSKB (@yayasangskb) on

Untuk mencapai ke empat gili ini, kami harus ke Gili Lampu dahulu, untuk melakukan pemesanan perahu selama satu hari. Kemudian melakukan penyebrangan ke masing-masing gili.

Saat kami ke sini, wisatawan tidak ramai, hanya terdapat sekitar tiga sampai empat perahu, salah satu perahu dari wisatawan asing.

Di sini kami juga bisa menikmati pesona bawah lautnya yang indah. Lebih dekat dengan ikan-ikan yang cantik, yang selama ini hanya bisa dilihat dari media—foto/video.

Alhamdulillah kemarin tidak hujan, sehingga kami bisa dengan puas menikmati pesonanya.

Air yang asin beberapa kali menyapa wajah kami.

Tak membuat kami marah, melainkan senyum dan syukur.

Sebab Allah telah izinkan kami melihat langsung salah satu ciptaanNya yang begitu memesona.

Air laut yang jernih. Air yang dangkal berwarna biru muda, sedangkan yang dalam, berwarna biru gelap.

Masyaa Allah, tak henti-hentinya kami mengingatNya. Perpaduan yang begitu cantik.

Disekeliling kami terbentang laut yang luas. Hal yang tak biasa bagi kami, yang lebih banyak menikmati daratan.

Ya Rabb, terima kasih telah mengizinkan kami melihat salah satu ciptaanMu yang luar biasa.

Esok jika engkau masih berkehendak, izinkan kami bisa menyapanya kembali.

Belajar tentang kesederhanaan dan kembali pada Sang Pencipta

Hari ketiga, Rabu (20/12) kami ke Desa Sade, yang terletak di Pujut, Lombok Tengah.

Desa yang masih menjaga warisan leluhur dengan bangunan rumahnya yang khas. Serta kerajinan kain tenun yang cantik dan beragam corak warna. Dibeberapa sudut, kami melihat warga menggelar hasil kerajinan mereka, berupa kain tenun dan aksesoris.

Dalam tulisan reportase Eka Widiya Sari di Harian Surya berjudul Menyelami Gelombang Keunikan Sade, dirinya menceritakan tentang keunikan desa ini.

Seperti rumah yang masih terjaga hingga sekarang. Atap rumah dari ijuk, kuda-kuda atapnya memakai bambu tanpa penguat paku sama sekali, dinding dari anyaman bambu, dan lantai tanah.

“Keasrian sebuah desa, kerukunan penduduknya, dan bunyi-bunyian khas desa, menjadi catatan indah yang bisa saya kenang,” kisah Eka.

Setelah itu, kami ke Pantai Kuta, qadarullah, hujan turun dengan lebat, alhasil kami berputar arah dan langsung menuju ke Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Center NTB, berlokasi di Mataram.

Masjid yang memiliki luas 3,6 hektar, juga memberikan kesempatan wisatawan untuk melihat pemandangan Mataram dari ketinggian melalui menara masjid.

Di sini kami melakukan shalat jamaah ashar dan maghrib. Selanjutnya kami berburu oleh-oleh khas Lombok.

Bermain Diary Perjalanan

A post shared by Yayasan GSKB (@yayasangskb) on

Cara kami untuk memecah dinding penghalang antara satu dengan lainnya, saling berbagi pelajaran yang didapatkan selama di Lombok, adalah dengan cara melakukan permainan Diary Perjalanan.

Sebagaimana yang telah saya tulis di Harian Surya berjudul Diary Perjalanan, Agar Jalan-jalan menjadi Sangat Menyenangkan, disebutkan, Diary Perjalanan mengajak kami saling membaur satu sama lain, tidak peduli status sosialnya seperti apa.

Namun ketika sudah memasuki permainan ini, masing-masing orang harus saling bergantian untuk berbicara panjang lebar dengan jujur dan kemudian lebih banyak mendengarkan dari yang lain.

Melalui aktivitas ini, kami jadi saling tahu pelajaran yang didapatkan oleh masing-masing orang.

Seperti kisah Iko, dalam menceritakan pengalaman ke beberapa gili. Tegang, senang, dan penuh inspirasi, tuturnya.

Tegangnya, lautnya lagi tinggi, dan saya harus menjaga adik-adik dan teman-teman yang  belum terbiasa dengan air laut.

Penuh inspirasinya, saat melihat dua sisi laut yang berbeda. Satu sisi gelombang besar, sisi yang lain tenang, ko bisa?

Itulah karya Allah, bahwa apa pun yang dibuat oleh Allah, adalah sebaik-baiknya. Sedangkan senangnya, saya bisa melihat banyak ikan secara langsung, bahkan bisa saya sentuh.

Lain halnya bagi Eka, “Saya bisa mengambil pelajaran saat saya terombang-ambing di atas kapal. Di sana saya mengibaratkan bahwa sebuah hidup itu harus penuh dengan karya. Karena saat kita tidak berkarya, maka seakan-akan dibawa oleh arus, terombang-ambing ke sana kemari.”

Melihat dan dekat dengan awan

Perjalanan itu diakhiri pada Kamis (21/12), terbang dari Bandara Udara Internasional Lombok pada pukul lima sore menuju Bandara Udara Internasional Juanda, Surabaya.

Kepulangan kali ini juga spesial, sebab kami bisa menikmati secara langsung simfoni awan. Pergerakan awan yang memesona, dan mata mampu melihat pemandangan dari ketinggian.

Sontak membuat kami—Dela, Eka, Rohman, dan saya sendiri—mengabadikan keindahan yang tersaji dengan kamera HP yang sebelumnya sudah diaktifkan mode pesawat.

Ketika di atas seperti ini, kami sadar, bahwa tak mungkin sesuatu yang begitu luar biasa, teratur, indah, dan menakjubkan tak ada yang menciptakan.

Maka PMK (Perjalanan Menemukan Karya) #1, bukan sebatas mengetahui karya Sang Pencipta, lebih jauh lagi, membuat kami sadar, kenapa dan untuk apa kami hidup di dunia.

Penulis Sandi Iswahyudi

1 KOMENTAR

  1. semoga ada kesempatan untuk berangkat kesana lagi ya kakak-kakak GSKB yang baik hati,

    Sukses selalu menyertai kita semua, Aamiin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here