yayasan-gskb-malang (1)Yayasan GSKB (Gerakan Sadar Kebaikan Buku) — “Beranilah bermimpi tinggi, karena kalau jatuh bisa nyangkut di awan. Tapi kalau mimpinya sebatas awan, jatuhnya malah ke rumah,” ujar Sandi sebagai pemateri yang mengajarkan adik-adik panti asuhan menulis surat dan cerita.

Hari Minggu (13/12) kemarin kami mengajak adik-adik Panti Asuhan Aisyiyah yang terletak di jalan Margo Basuki, Gang Ulil Abshor No. 7 A, Jetis Mulyoagung, Malang menulis mimpi, surat, dan cerita.

Kegiatan ini merupakan rangkaian awal dari program besar GSKB, yaitu menghasilkan buku antologi yang sebagian besar penulisnya adik-adik panti asuhan.

Hari itu, sekitar 20 adik-adik panti berkumpul di dalam ruangan bercat kuning guna mendengarkan materi kepenulisan.

Pematerinya adalah Sandi seorang blogger yang tulisannya cukup banyak dimuat disurat kabar. Saya ingat betul kata Sandi, menulis itu sebaiknya menghadirkan emosi atau perasaan supaya orang yang membaca tulisan kita dapat memahami maksud dari pesan yang ingin disampaikan.

Kemudian, salah satu kiat menulis dari Sandi yaitu menulis sebaiknya diawali dari niat dan percaya terhadap diri sendiri. Percaya diri tujuannya menghargai diri sendiri dalam berkarya. Jika ingin dipercaya dan dihargai orang, mulailah percaya dan menghargai diri sendiri.

Dalam menulis terkadang kita menjumpai kendala seperti menurunnya gairah menulis. Cara ampuh mengendalikan gairah menulis yaitu, menjadikan menulis sebagai “nutrisi,” kebutuhan, dan kebiasaan. Ibaratnya seperti makan nasi, jika sudah terbiasa akan susah menghilangkan kebiasaan tersebut.

Kita juga dapat mencari inspirasi dari kehidupan orang lain di luar sana. Misalnya ketika melihat orang lain memiliki kekurangan, tetapi justru mereka mampu memanfaatkan kekurangan tersebut menjadi kelebihan.

Menulis dengan topik semacam ini, akan membuat gairah menulis besar dan kuat. Sebab kita ingin semua orang tahu, tentang inspirasi ini. Kita ingin semua orang dapat mengambil pelajaran dari tulisan yang akan dihasilkan.

Kemarin ada tiga adik panti yang memberanikan diri membacakan hasil tulisannya. Salah satunya adalah Eka.

Eka bercerita mimpinya adalah menjadi dokter, ia bilang tekun belajar dan aktif mencari beasiswa adalah cara yang harus ditempuh agar mencapai mimpinya.

Saya tertarik pada ulasan Eka yang ingin menulis untuk memotivasi anak bangsa agar menjadi lebih cerdas, pintar, mandiri dan berprestasi.

Jarang saya dengar ada seorang gadis perempuan seusia Eka yang memiliki motivasi tinggi untuk menjadikan generasi Indonesia gemar membaca dan menulis. Apalagi ia dengan menggebu-gebu mengatakan bahwa Indonesia adalah negara kaya raya yang mestinya menjadi negara maju.

Saya setuju dengan Eka. Sudah saatnya generasi penerus berkarya dengan pena agar tidak hanya menjadi wacana. Terlebih, beberapa anak muda sekarang berkomentar daripada mencari solusi.

Nah, dari kegiatan ini, banyak hal yang bisa kita pelajari bersama. Percaya atau tidak, menulis merupakan cara cepat mencapai mimpi.

Melalui tulisan kita mampu menyampaikan pesan dan memotivasi banyak orang. Ayo, selagi ada kesempatan menulis, tulislah! Kesempatan tidak selamanya datang dua kali, segeralah menulis dari sekarang!

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” kata Pramoedya Ananta Toer.

Penulis Anis Purwa Ningrum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here